Sri Mulyani: RI Punya Uang tapi Salah Belanja

Published on Juli 12, 2012 by   ·   No Comments
Share This Post To :
SRI MULYANI

JAKARTA – Indonsia telah mendapatkan rating layak investasi (investmen grade) dari dua lembaga pemeringkat internasional. Namun, penggunaan anggaran oleh pemerintah masih belum digunakan secara maksimal.

“Kita (World Bank) melihat investasi grade sangat bagus. Tapi bagaimana Indonesia membelanjakannya? Seberapa baik dan kualifikasi Indonesia membelanjakannya?” tanya Managing Director World Bank Sri Mulyani Indrawati kala ditemui di Gedung BKPM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/7/2012).

Seperti diketahui, Indonesia mendapat peringkat layak investasi dari dua lembaga pemeringkat dunia, yakni Moody’s Investor Services, dan Fitch Rating. Namun dia menilai terdapat miss dalam belanja negara “Indonesia punya uang, tapi salah membelanjakannya, seperti Eropa. Kita punya banyak mobil motor tapi ada kemcetan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Indonesia harus belajar dari Eropa bagaimana menjaga pertumbuhan ini agar terus tumbuh. “Jadi di sini Indonesia tidak fokus pada peningkatan kualitas bangsa, tapi bagaimana Indonesia punya good policy,” tukas dia.

Sekadar informasi, Indonesia saat ini sedang menanti lembaga pemeringkat S&P untuk memberikan gelar investment grade. Namun, gelar tersebut ditunda lantaran batalnya kenaikan harga BBM bersubsidi. “Soal S&P saya tidak terlalu khawatir. Saya rasa ini masalah waktu saja,” ungkap Kepala BKPM Gita Wirjawan.

Menteri Keuangan Agus DW Martowardjojo menjelaskan, lembaga Pemeringkat Internasional S&P perlu melakukan kajian lebih lanjut sebelum menyematkan gelar investment grade tersebut kepada Indonesia.

Hal ini diungkapkan lantara dua lembaga pemeringkat lainnya yakni Moody’s dan Fitch’s Rating, telah lebih dahulu memberikan gelar investment grade bagi Indonesia.

Mengutip website resmi Moody’s, dari sisi manajemen fiskal, Moody’s melihat saat ini kebijakan yang diterapkan cukup baik. Indikatornya adalah defisit anggaran berada pada tingkat yang sangat rendah, dan beban utang pemerintah sebagai terhadap PDB (debt to GDP) yang rendah.

Pertama, adanya mobilitas pendapatan yang baik sehingga dapat menyebabkan peningkatan pada ruang fiskal.

Kedua, kondisi negara pembayaran dan sistem keuangan yang sehat, ditambah dengan track record stabilitas moneter dan pengendalian harga.

Ketiga, kemajuan berkelanjutan dalam mengatasi infrastruktur, yang berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan potensial.

Keempat, adanya permodalan dari dalam negeri serta pasar kredit untuk yang mampu mendukung kemampuan keuangan dan utang pemerintah.
(mrt)

Tags:  ,

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Random Posts :
Readers Comments (0)




Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

*

Using this site indicates that you have read and accept our TERMS. If you do not accept these TERMS, you are not athorized to use this site