Seulawah, Sejarah Pesawat RI 001

Published on Desember 20, 2011 by   ·   2 Comments
Share This Post To :
seulawah

Seulawah. Mungkin masyarakat sekarang tidak terlalu familiar dengan kata ini, bahkan bagi masyarakat Aceh. Kata yang sudah lama tidak terdengar, bahkan sudah terlupakan. Meskipun kata ini menorehkan sejarah penting dalam catatan penerbangan Indonesia. Dalam pelajaran sekolahpun, tidak banyak disinggung, apalagi tentang segala sesuatu yang ada di balik pengadaan Seulawah. Seulawah adalah nama pesawat pertama Indonesia yang dibeli dengan bantuan berkaleng – kaleng emas milik rakyat Aceh. Kata Seulawah sendiri diambil dari bahasa Aceh yang artinya berarti gunung emas. Memandang Seulawah adalah memandang kegarangan sebuah armada udara yang tak lekang ditelan jaman. Hingga kini pun, masih beroperasi dengan laik, meskipun terbatas menjadi pesawat latihan. Tapi, apapun fungsinya saat ini, Seulawah telah membuktikan kegagahannya sebagai armada ‘pembuka’ di negeri ini. Dakota RI-001 Seulawah, demikian nama lengkap pesawat ini. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah tercatat sebagai cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Cukup besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia. Secara fisik, Pesawat Dakota DC-3 Seulawah yang dibeli pada tahun 1948 ini, memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter. Bertenaga dua mesin Pratt & Whitney, berbobot 8.030 kg. Sementara kemampuan jelajahnya, dengan kecepatan maksimum 346 km/jam. Tak terbantahkan, rakyat Aceh memberi sumbangsih luar biasa pada pengadaan Seulawah. Hingga di tahun 1984, didirikan monumen di Lapangan Blang Padang – Banda Aceh. Di situ, Pesawat Dakota RI-001 Seulawah diparkir dan dijadikan sebuah monumen sebagai bukti betapa besarnya Perjuangan & Pengorbanan Rakyat Aceh atas Kemederdekaan Republik Indonesia Pemrakarsa pembelian pesawat ini, menurut berbagai sumber adalah KSAU Komodor Udara Suryadarma. Wiweko Supono dan Nurtanio Pringgoadisuryo dipercaya sebagai pelaksana ide. Pada tanggal 16 Juni 1948 di Hotel Kutaraja, Presiden Soekarno berhasil membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Lewat kepanitiaan yang diketuai Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, berhasil dikumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh setara dengan 20 kg emas. Kehadiran Dakota RI-001 Seulawah mendorong dibukanya jalur penerbangan Jawa-Sumatera, bahkan sampai ke luar negeri. Pada bulan November 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatera dengan rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja- Payakumbuh-Maguwo. Rute yang diambil salah satu proklamator RI ini, menjadi awal berbagai rute Seulawah berikutnya. Pesawat ini pernah digunakan joy flight bagi para pemuka rakyat Aceh dan penyebaran pamflet di Kutaraja. Pernah difungsikan sebagai pengangkut kadet ALRI dari Payakumbuh ke Kutaraja, serta untuk pemotretan udara di atas Gunung Merapi. Juga sempat tertahan masuk tanah air ketika terjadi Agresi Militer Belanda II. Ada selaksa jasa yang tak pernah lepas dari catatan sejarah Indonesia. Ditulis rapi di atas batu prasasti di bawah pesawat, di Aceh. Diantaranya adalah, berhasil menerobos blokade Belanda, sehingga hubungan antara pemerintahan di Yogyakarta dengan daerah di Sumatera khususnya Aceh menjadi lancar. Jasa lain, penerobosan malam hari terhadap blokade Belanda dengan mengangkut senjata dan mesiu ke pangkalan udara Lho’nga. Pada skala internasional, Seulawah juga menorehkan jasa. Yakni, lewat pemancar radio Indonesian Airways, berita – berita perjuangan di tanah air diteruskan ke beberapa perwakilan RI di luar negeri dan Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB). Itu semua ketat kaitanya dengan keikhlasan penduduk Aceh menyumbangkan hartanya pada tanah air Indonesia. Ada Dua ..? Benarkah ada dua pesawat yang dibeli dengan berkaleng – kaleng emas rakyat Aceh? Fenomena ini yang tidak banyak disinggung dalam sejarah. Bahkan terkesan dikaburkan. Memang tidak gampang mengatakan kabar itu benar. Tapi lebih tidak gampang lagi, jika mengatakan bahwa kabar itu tidak benar. Karena beberapa literatur menyebutkan, memang ada dua pesawat yang dibeli waktu itu. Bahkan Seulawah bukanlah pesawat pertama yang dibeli Indonesia, tapi pesawat kedua. Karena yang pertama telah terbeli di tahun 1947, setahun sebelum Seulawah terbeli. Pesawat itu adalah, Avro Anson yang dibeli atas perintah Bung Hatta dengan dana sumbangan emas dari para kaum ibu di Sumatera Barat. Beberapa literatur menyebut, pesawat ini dibeli di Thailand dari orang Inggris. Tapi sayang, ketika melintas Selat Malaka ditembak dan jatuh. Pada saat itu pula, gugurlah Halim Perdanakusumah sebagai pilot. Sudah terbeli, tapi belum terpakai. Kabarnya juga, replika pesawat ini ada di Lanud Gadut di Bukittinggi, Padang. Memastikan data yang tercecer tentang pesawat RI ternyata tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Karena toh, pada kenyataannya tidak ada yang mampu memastikan pesawat apa yang berhasil terbeli pertama kali oleh Indonesia. Mungkin diperlukan satu investigasi khusus untuk menggali data lebih akurat untuk meluruskn sejarah. Tapi, pertanyaanya adalah, kalau harus menggali berbagai nara sumber di Sumatera dan Aceh, masihkah mereka hidup? Atau jangan – jangan saksi sejarah tentang dua pesawat itu sudah tidak tersisa, termakan usia. Jika demikian, hanya arsip nasional yang akan membantu memberi titik terang. Jikapun Arsip nasional kita juga tidak mencatat dengan rapi dan benar, maka harus berlapang dada untuk menerima, bahwa selamanya selalu ada kontroversi pesawat pertama yang terbeli oleh negara ini. Baik nama maupun jumlahnya.

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Random Posts :
Readers Comments (2)
  1. admin mengatakan:

    sama sama sobat
    happy blogging 🙂

  2. jouvan mengatakan:

    sedikit tips gan dari ane.
    kalo bisa artikel nya dibuat paragraf supaya mudah dibaca,,kalo kayak di atas pusing ntar yg baca nya ..





Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

*

Using this site indicates that you have read and accept our TERMS. If you do not accept these TERMS, you are not athorized to use this site