Osteoporosis dan Faktor Resikonya

Published on Juni 15, 2010 by   ·   No Comments
Share This Post To :

Apakah osteoporosis itu? Osteoporosis berasal dari kata osteo, yang berarti tulang, dan porous, yang berarti berpori atau keropos. Penyakit ini memang menyebabkan tulang menjadi keropos tanpa kita sadari. Seperti patah tulang akibat trauma yang ringan, akibat penyakit ini tubuh makin pendek atau makin membungkuk, dan nyeri tulang terasa merata. Karena gejalanya yang sering kali tidak kita sadari, penyakit ini disebut juga silent disease, pembunuh diam-diam.

Menurunnya massa tulang secara keseluruhan akibat ketidakmampuan tubuh mengatur kandungan mineral dalam tulang, kemudian disertai dengan rusaknya arsitektur tulang, mengakibatkan turunnya kekuatan tulang. Dalam hal ini, terjadilah pengeroposan tulang yang disebut dengan osteoporosis itu. Dan ini mengandung resiko mudahnya terjadi patah tulang.

Osteoporosis kerap jadi masalah. Ini dikarenakan penyakit itu kerap timbul tanpa gejala fisik yang jelas. Penderita umumnya tahu setelah ia mengalami patah tulang, dan ketika diperiksa baru diketahui bahwa itu karena osteoporosis. Itulah sebabnya osteoporosis disebut silent disease.

Kekuatan tulang dipengaruhi oleh dua hal yaitu kepadatan dan kualitasnya. Kedua faktor itu sangat erat kaitannya dengan keadaan hormonal dalam tubuh dan perilaku hidup. Hal itu berkaitan dengan asupan nutrisi dan tempaan pada tubuh yang dapat memperkuat keadaan tulang. Tiga tempat yang rawan terhadap osteoporosis adalah tulang belakang, panggul, dan pergelangan tangan.

Osteoporosis dibagi berdasarkan faktor resiko dan penyebab rapuhnya tulang sehingga terdapat dua macam osteoporosis. Pertama, osteoporosis primer. Ini umumnya terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause akibat kekurangan estrogen, dan pria yang telah mengalami andropause akibat kekurangan testosteron, yakni pria berumur 40 tahun ke atas.

Osteoporosis senilis termasuk jenis primer. Kerapuhan tulang yang satu ini diakibatkan faktor usia, dan umumnya diderita mereka yang berusia di atas 70 tahun, dengan perbandingan wanita dengan pria 2:1. Kedua, osteoporosis sekunder. Jenis ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti adanya penyakit yang mendasari, obat obatan, dan lain lain. Di luar yang dua itu, ada osteoporosis jenis lain walau kejadiannya langka, yakni idiopathic osteoporosis, pada anak anak.

Faktor risiko untuk osteoporosis ada yang dapat diubah dan ada yang tidak. Yaeg tidak dapat diubah diantaranya adalah:
faktor pertama, usia lanjut. Secara alami, kepadatan tulang manusia menurun pada umur 30 tahun ke atas.
Faktor kedua, jenis kelamin. Wanita memili resiko lebih tinggi akibat mengalami menopause, yang berarti berhentinya produksi hormon estrogen. Sedangkan pada pria terjadinya lebih lambat karena pria tidak mengalami penghentian produksi hormon testoteron. Yang terjadi hanya penurunan hormon itu di usia 40 tahun ke atas. Perbandingan kasus osteoporosis pada tulang pergelangan tangan wanita dan pria adalah 4:1, pada tulang belakang 3:1, dan pada tulang panggul 2:1. Persentase resiko terkena osteoporosis pada wanita indonesia adalah umur 50-59 tahun 24% dan umur 60-70 tahun 62%.
Faktor ketiga adalah riwayak keluarga. Seseorang yang memiliki sanak famili yang pernah mengalami kerapuhan atau bahkan patah tulang akibat osteoporosis cenderung memiliki potensi untuk mengalami osteoporosis sedangkan yang dapat diubah adalah faktor resiko yang disebabkan kebiasaan. Membatasi atau menghentikan konsumsi makanan, minuman, atau produk tertentu adalah contoh keabiasaannya. Dan contoh produknya adalah minuman keras, minuman yang mengandung kafein, serta rokok.

Semoga Bermanfaat

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Random Posts :
Readers Comments (0)




Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

*

Using this site indicates that you have read and accept our TERMS. If you do not accept these TERMS, you are not athorized to use this site