Hidup Tersiksa di ‘Surga’

Published on Mei 6, 2012 by   ·   No Comments
Share This Post To :
surga, neraka, jalan terbaik

SEBUAH tulisan dari Adam Walinsky yang berjudul What It’s Like to be in Hell mampu menggambarkan dengan baik bagaimana kondisi kehidupan di lingkungan kumuh Chicago pada era 1980-an yang brutal, keras dan sangat tidak bersahabat sama sekali pada anak-anak. Kekerasan sering muncul, kaca-kaca rumah pecah diterjang peluru anggota geng narkoba. Anak-anak hidup dalam keprihatinan, terkadang mereka terpaksa tiarap di ruang belajar sekolah ketika peluru melintas dari jendela.

Dalam tulisan yang dimuat dalam harian New York Times edisi 4 Desember 1987 tersebut, lingkungan hidup di Chicago digambarkan sebagai satu tatanan sosial bak hidup dalam neraka. Siapa saja, kapan saja, di mana saja, bisa tersiksa dan terbunuh, tak terkecuali anak-anak yang sebagian mereka yang masih berusia delapan tahun direkrut menjadi anggota geng. Mereka menjadi kurir obat-obatan terlarang dan terlibat dalam kegiatan kriminal. Bahkan pemandangan biasa apabila sepulang sekolah mereka mendapati jasad temannya tergelatak di jalan dengan bersimbah darah.

Pernah suatu hari ada seorang wanita, yang pintu rumahnya dirusak oleh penyusup brutal, memohon bantuan kepada pemerintah, namun jawaban yang diberikan sama sekali tidak manusiawi: “pidahkan lemari es Anda di depan pintu”. Karena bantuan baru akan datang dalam dua minggu, “Dia meletakkan sebuah kursi di ambang pintu” dan selama dua minggu ia duduk di sana sambil menonton televisi dan “tidak berani tidur di malam hari dan pergi di siang hari” bahkan mirisnya “anak-anak tidak pergi ke sekolah” karena ketakutan. Padahal kata banyak orang, Amerika adalah negara demokrasi yang sangat peduli terhadap kehidupan yang layak dan bebas dari ketimpangan sosial dan eksploitasi.

 Hidup di jalanan
Di Indonesia, kondisi kehidupan anak-anak juga tak kalah memprihatinkan, terutama mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu. Banyak dari mereka yang hidup di jalanan mencari nafkah pada saat mereka semestinya berada di sekolah untuk menuntut ilmu, sebagian lainnya menjadi pengkonsumsi obat-obatan terlarang, terlibat kegiatan kriminal. Bahkan, ada yang terbaring tidak berdaya karena kekurangan gizi atau yang sering kita sebut sebagai busung lapar.

Di tengah hiruk-pikuk berbagai persoalan bangsa dan negara, persoalan gizi buruk yang banyak diderita anak-anak menjadi hal yang begitu mudahnya terlupakan. Sementara para anggota DPR-RI menganggarkan dana sebesar Rp 1,59 miliar untuk pengadaan parfum ruangan agar bisa mencium wewangian sambil bersantai atau tidur ketika rapat. Mereka mandi dengan air sungai kotor sementara pejabat negeri ini bersikeras untuk membangun toilet yang berkualitas lux dengan dana sekitar Rp 2 miliar.

Ada pula anak-anak yang tulang rusuknya berbentuk jelas di kulit perut, badan kurus, muka kusam dan tatapan mata yang sepertinya kehilangan harapan dan semangat. Beberapa lainnya berperut buncit, berlengan kecil, kurus, pipi menciut seolah kulit telah menyatu dengan tengkorak mereka. Sementara di lain tempat, elite-elite politik di DPR-RI yang dulunya pernah kita percayakan mampu mensejahterakan rakyat sangat bersemangat agar proyek pengadaan vitamin atau obat kuat tetap terealisasi.

Anak-anak yang menderita gizi buruk ini, lahir, dibesarkan, dan menderita di sebuah “surga” bernama Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Mereka yang orang tuanya dililit kemiskinan hidup di atas tanah yang memiliki potensi dan sumber daya alam yang melimpah, namun kelaparan. Mereka hidup di atas tanah yang menyimpan banyak air, namun mirisnya tidak bisa mengkonsumsi air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Indonesia adalah sebuah “surga” yang dalam berbagai literatur ilmu ekonomi disebut telah terkena Dutch disease (kutukan Belanda). Artinya, negara memang mempunyai sumber daya alam yang melimpah, namun pertumbuhan atau kondisi perekonomiannya sangat buruk. Tidak semua dari kita hidup bahagia di “surga” ini, sebagian besar justru malah menderita seperti hidup di neraka.

Menurut data Unicef, persoalan gizi buruk di Indonesia telah menyebabkan “4 dari 100 bayi yang lahir setiap tahun tidak dapat bertahan hidup lebih dari 5 tahun. Selanjutnya, masih manurut data Unicef, ada beberapa gejala yang timbul pada anak penderita gizi buruk. Pertama, bayi pendek untuk rata-rata usianya (stunted)”. Kedua, bayi kurus di bawah standar usianya (underweight). Ketiga, kekurangan vitamin dan mineral.

Di Situbondo, misalnya, seorang balita meninggal dunia dalam usia 21 bulan akibat gizi buruk dan terlambat mendapat penanganan medis. Persoalan kemiskinan adalah yang menjadi penyebab utamanya. Ketidakmampuan orang tua dalam memenuhi asupan gizi pada anak karena pendapatan yang tidak memadai telah menjadikan anak-anak sebagai korban yang tidak berdosa.

 Menambah masalah
Pemerintah memang telah melahirkan berbagai kebijakan untuk menanggulangi persoalan serius ini, termasuk berbagai program kebijakan penanggulangan kemiskinan. Namun bukannya menyelesaikan persoalan, beberapa kebijakan justru menambah masalah baru yang tak kalah rumitnya. Misalnya saja saat ini pemerintah sedang berencana menelurkan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi.

Kebijakan ini sangat kontras dengan upaya pengentasan kemiskinan. Saya meyakini, kebijakan ini, alih-alih menyelesaikan masalah, pasti nantinya akan menjadi atau menambah beban baru bagi rakyat. Kemiskinan akan semakin menjalar dan kesenjangan sosial akan semakin melebar. Dan anak-anak akan ikut merasakan berbagai dampak buruknya.

Dampaknya dari persoalan ini akan sangat buruk. Fakta bahwa kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia berpeluang besar melahirkan kecemburuan sosial yang kerap diiringi dengan tindak kekerasan atau kriminalitas seperti di awal reformasi pada era 1998 dulu. Ini, antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Ketika dunia seolah tidak lagi mempunyai warna bagi anak-anak penderita gizi buruk yang tengah sekarat, hanya ada dua hal yang mereka tunggu: pertolongan datang atau mati kelaparan perlahan-lahan. Jika yang terakhir disebutkan harus dialami oleh banyak anak-anak Indonesia yang menderita gizi buruk, maka pantaslah mereka kita sebut sebagai manusia-manusia yang hidup tersiksa di “surga”.

* Bisma Yadhi Putra, 
Mahasiswa Prodi Ilmu Politik, Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe.

 

[Source: SerambiNews ]

Tags:  , ,

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Random Posts :
Readers Comments (0)




Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

*

Using this site indicates that you have read and accept our TERMS. If you do not accept these TERMS, you are not athorized to use this site